«

»

Dec
26

Tuduhan Meloloskan Barang oleh Hypermart


Share on Twitter

Ilustrasi

Saya hanya mau mencurahkan perasaan saya yang tidak enak (sampai mengganggu tidur saya) tentang tuduhan pihak security dan management Hypermart Depok Town Square (Detos) yang terletak di Jalan Margonda. Hypermart sendiri terletak di basement.

Pada tanggal 21 Desember 2012 sekitar pukul 18 WIB saya masuk ke area Hypermart memasukkan barang yang hendak saya beli setelah menimbang-nimbang harga dan kegunaannya bagi saya antara lain : – 1 unit charger Baterai AA Energizer senilai Rp 141.000 (kurang lebih) – 1 unit charger Baterai AAA Energizer senilai Rp 114.000 (kurang lebih) – 1 pack baterai rechangeable AA Energizer senilai Rp 40.000 (kurang lebih) – 1 pack baterai rechangeable AAA Energizer senilai Rp 40.000 (kurang lebih) – 1 jar sambar terasi ABC senilai Rp 10.000 (kurang lebih) – 1 jar cimory plain senilai Rp 20.000 (kurang lebih) – 1 pac agar Rasa isi 5 bungkus senilai Rp 13.000 (kurang lebih) Setelah saya berkeliling saya hendak membayar ke kasir yang waktu itu hanya buka sekitar 4 atau 5 kasir.

Saya celingak-celinguk mencari mana kasir yg kosong, sebelumnya selama saya berkeliling mencari barang saya merasa tiba-tiba perut saya melilit dan saya berpikir harus segera mencari toilet yang memang berada di luar area Hypermart. Oleh karena itu saya mencari kasir yang antriannya paling sedikit namun tidak ada karena di setiap kasir berjejer antrian 4 atau 5 customer. Saya pikir saya tidak akan tahan kalau menunggu. Akhirnya keranjang saya taru di dekat tempat saya di sekitar itu yang kebetulan kasir kosong (kasir ditutup dengan rantai).

Keranjang saya letakkan dengan rapi supaya tidak dibereskan petugas, dengan niat nanti setelah saya selesai dengan urusan perut ini saya akan kembali mengambil keranjang dan membayar barang-barang tersebut, saya keluar lewat pintu masuk. Tidak terjadi apa-apa waktu itu. Setelah saya selesai dari toilet saya merasa lemas mungkin saya memang sedang tidak enak badan, karena seharian itu memang saya ke toilet terus. Saya putuskan untuk tidak usah kembali saja membayar barang-barang tadi dan langsung pulang saja.

Kebetulan pintu keluar Detos dekat dengan toilet jadi saya tidak perlu berjalan jauh. Namun sebelum saya benar-benar keluar dari area Detos seorang pria dengan baju kaos kerah merah dan seorang pria lain dengan seragam security menyapa saya dan bilang “bisa ikut saya mba?”. Setelah itu saya ikuti mereka yang ternyata saya dibawa ke ruangan security, ruangan yg sempit. Security dan saya berhadap-hadapan dan pria berkaus merah di belakang saya (belakangan saya menilai posisi ini tidak adil dan cenderung mengintimidasi karena saya tidak dapat melihat muka dan gerak tubuh kedua orang ini secara bersamaan).

Sang Satpam menanyai nama saya dan tempat tinggal saya serta pekerjaan saya dengan sopan (sang Satpam sendiri tidak menyebutkan nama saya). Saya menyebutkan nama saya, tinggal di Lenteng Agung dan sedang kuliah di ITB. Dia salah mengira kalau saya kuliah di Bogor. Saya membetulkan kalau ITB itu di Bandung, saya tidak menyebutkan pekerjaan saya sebagai PNS di Kementerian Perdagangan. Setelah menanyakan identitas saya secara singkat, dia menanyakan tahu kenapa dipanggil ke sini. Tentu saja saya tidak tahu (pertanyaan ini tentu saja memposisikan mereka orang yang lebih tahu dan layak untuk didengarkan). Singkat cerita mereka melihat gerak-gerik saya dari CCTV dan mereka menuduh bahwa saya mau meloloskan barang dari kasir yang kosong.

Saya berang bagaimana mereka tahu bahwa saya mau meloloskan barang. CCTV tidak dapat merekam niat, hanya gerakan dan obyek lain yang bisa ditangkap. Saya bilang saya tidak punya niat seperti itu dan saya bertanya lagi “bagaimana saya membuktikan niat saya itu?”. Saya berbicara dengan nada tinggi karena berkali-kali mereka mengatakan bahwa saya mau meloloskan barang dan berkali-kali saya bilang bahwa mereka tidak berhak mengatakan saya berniat karena tidak ada bukti yang membenarkan niat saya jahat atau baik. Sang Satpam mulai emosi dan membentak saya dengan suara keras.

Tidak terima dibentak saya balas dengan nada tinggi.Karena perbedaan suara wanita dan pria, tidak bisa membuat suara saya bisa menang dengan gelegar suaranya sekalipun saya memang memakai nada tinggi. Namun saya masih tahu tata krama dengan tidak mengeluarkan makian atau kata-kata kebun binatang. Saya tetap menguraikan tentang fungsi CCTV yang tidak bisa menangkap niat dan bahwa saya tidak punya niat. Sang karyawan berkaus merah di belakang saya itu pun mengejar saya dengan pernyataan mau meloloskan barang. Bahkan dia mengatakan bahwa dari perkataan saya waktu menyatakan argumen tadi bahwa saya mengiyakan bahwa saya berniat meloloskan barang.

Saya kalau marah omongan saya jadi tidak beraturan dan sulit ditangkap orang maknanya. Namun kalau pun saya mengiyakan apakah itu juga merupakan bukti karena tidak ada fakta lain yang bisa mendukung statement itu. Barang tidak ada yg keluar, alarm tidak berbunyi waktu saya keluar dari pintu masuk tadi. Jadi sebenarnya saya bingung untuk apa mereka mengadakan pembicaraan ini. Saya sudah mulai lelah berargumen dan saya marah sekali sampai tangan saya gemetar (ini tipikal saya dulu saya suka gemetar atau menangis kalau marah). Sang karyawan menuduh gemetar-nya tangan saya itu pertanda bahwa saya memang mengakui berniat jahat.

Saya pikir sang karyawan ini pengetahuannya cetek sekali, tidak tahu tentang psikologi. Saya jelaskan bahwa saya sangat marah makanya saya gemetar. Sebelumnya sang karyawan bilang bahwa “mana ada orang mau jahat mau mengaku, kami telah memantau anda sejak masuk, tadi anda berputar-putar di sekitar roti”.

Pernyataan ini yang membuat saya paling marah. Setelah sang Satpam menjelaskan bahwa mereka hanya ingin KLARIFIKASI, saya jelaskan lagi secara detail mulai dari saya masuk tadi ditambah semua niat dan perasaan saya supaya mereka jelas. Saya minta supaya dibuat surat pernyataan bahsa saya tidak berniat untuk mencuri atau meloloskan barang. Namun mereka bilang tidak usah. Hingga saat ini saya tetap bingung kalau tidak dibuatkan surat pernyataan bagaimana saya di kemudian hari membuktikan niat saya yang murni. Tidak ada permintaan maaf dari mereka malah saya yang mengucapkan terimakasih dan maaf karena membuat mereka bicara dengan nada tinggi.

Hal-hal yang tidak menyenangkan buat saya dari kejadian tersebut :
1. Mereka telah menuduh saya sampai kepada niatan saya, delik mana dalam pemeriksaan, penyelidikan, penyidikan sampai pengadilan yang mempertanyakan niat tanpa bukti aksi yang jelas-jelas tidak mendukung alibi niatan tersebut.
2. Sampai sekarang saya tidak dapat mengingat nama mereka karena mereka juga tidak memperkenalkan diri mereka dan posisi mereka dalam struktur operasi Hypermart pada saat itu. Saya pikir ini adalah posisi yang arogan karena saya seperti berhadapan dengan atasan saya bukan level yang sejajar.
3. Tidak ada permintaan maaf karena walaupun hanya mungkin tentang niat mencuri, saya toh tidak terbukti mencuri.
4. Pernyataan sang Satpam yang berkali-kali menyebutkan saya orang pintar, namun selalu menyatkan bahwa statement saya tidak benar menyatakan bahwa saya tidak lebih pintar dari dugaan mereka.
5. CCTV hanya menangkap gerak-gerik, sementara arti dari gerak-gerik tersebut adalah tafsir manusia, itu yang tidak bisa mereka pahami. Bahwa mereka telah salah menafsir arti dari gerak-gerik saya. Secara umum bahwa dugaan mereka telah dibayang-bayangi bahwa orang dengan gerak-gerik ini patut dicurigai dan kebanyakan berakhir dengan mencuri. Dalam nada bicara mereka tidak ada alternatif tafsiran selain itu. Dan saya sangat sulit meyakinkan hal tersebut.
6. Mereka menyatakan bahwa barang-barang yang saya hendak curi cukup mahal. Apakah kalau saya hanya memasukkan mie instant menghilangkan dugaan saya mau mencuri?
7. Tidak ada surat pernyataan, berita acara, atau bukti rekaman (sebelumnya saya menanyakan jika gerak-gerik saya direkam, apakah pembicaraan ini direkam. Jelas saya lihat disitu tidak ada CCTV.
Ini mengecewakan karena saya hendak memakai rekaman pembicaraan saya itu sewaktu-waktu nanti tentang cara mereka yang tidak mengenakkan). Jadi saya pikir apakah inti dari semua pembicaraan ini.
Apakah hanya ingin mengklarifikasi niat? (klarifikasi adalah kata-kata yg berulang kali disebutkan sang Satpam).
Saya berpikir orang dengan niat jahat ataupun baik sama sekali akan mengatakan tidak punya niat mencuri kan…jadi saya pikir ini adalah acara “orang kurang kerjaan”.
Toh untuk membuktikan kinerja “pengamanan” mereka yang super hebat itu kepada manajemen butuh suatu bukti acara kan yang saya juga sebagai pihak ke-tiga perlu tahu bukti acara tersebut.
8. Saya diingatkan Satpam untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut (pernyataan ini menyudutkan saya) yang mengundang kecurigaan keamanan. Saya bingung apa saja tindakan yang mengundang kecurigaan. Dia bilang menempatkan barang yang tidak jadi dibeli di lorong lebih baik daripada di depan kasir kosong.
Apakah saya harus repot-repot menempatkan balik barang di lorong sementara perut saya tidak mau kompromi. Aneh juga. Saya pikir sistem keamanan dengan menempatkan alarm di pintu kasir dan pintu masuk sudah dapat menjamin bahwa barang yang keluar tanpa otorisasi kasir akan membuat alarm berbunyi, sehingga ditempakan di mana saja asal tidak melanggar batas otorisasi kasir tidak akan menjadi masalah, toh swalayan diciptakan untuk menjamin keamanan barang dan kenyamanan pembeli.
Keadaan seperti ini mendukung keputusan-keputusan customer untuk mengambil atau menaruh barang pada beberapa titik yang menjadi jangkauannya selama itu dalam batasan-batasan yang ditetapkan manajemen pasar swalayan. Keterjangkauan customer terhadap barang itu yang membedakan pasar swalayan dengan pasar tradisional.
9. Saya mengajari mereka cara bertanya yang tidak menimbulkan perdebatan dengan suara tinggi. Salah satunya dengan langsung kepada permasalahan, tidak berbelok-belok, menggunakan kalimat dugaan daripada langsung kepada penafsiran mereka, dan menyatakan apa yang mereka kehendaki dari lawan bicara. Mereka tidak mau terima bahwa mereka menggunakan kalimat “diduga” akan terkesan menuduh.
Lha wong mereka ga pakai aja lebih sakit daripada menuduh. Mohon agar curhat-an saya ini bisa diteruskan ke pihak management Hypermart. Saya tidak ingin meneruskan ini kemana-mana.
Saya tidak mau capek dan repot untuk urusan yang tidak jelas. Kalaupun Hypermart mengalami kejadian pencurian namun harus berhati-hati dengan tindakan pengamanannya. Menurut saya kejadian yang saya alami adalah pengamanan yang berlebihan. Ada tindakan lain yang lebih cerdas untuk menangkap pencuri, mencegah pencurian ataupun bersosialisasi kepada customer bagaimana bersikap.

Mohon juga agar pihak manajemen Hypermart mengevaluasi karyawan agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan dan menggunakan kalimat-kalimat yang bijak, entah itu mendapat pelatihan dari pihak kepolisian.
Terimakasih.
Hormat saya
Lilis Verawati

*[Sudah dilaporkan ke pihak terkait pada 26 Desember 2012]

Share on Twitter

Pengaduan Terkait:

  1. Order Barang Tetapi Barang Tidak Terkirim
  2. Pembelian di Disdus yang Mengecewakan, Tidak Sebesar Janjinya
  3. Penipuan oleh 081282135333

Leave a Reply