«

»

Mar
22

Bank Mega Tidak Punya Sikap Toleransi


Share on Twitter
Ilustrasi

Ilustrasi

 

Saya adalah nasabah Kartu Kredit Terbitan Bank Mega dengan nomer kartu 4201 9201 2891 XXXX, kurang lebih sejak tahun 2006/2007. Saya ingin bertanya kepada Bank Mega sebagai salah satu bank besar dengan skala Nasional. Apakah Bank Mega tidak mempunyai toleransi terhadap nasabah yang sudah tidak lagi mempunyai kemampuan finansial yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya?

Tahun 2011 saya keluar dari pekerjaan saya, saat ini saya hanya seorang pekerja lepas. Awalnya semua berjalan seperti biasanya. Namun belakangan kerjaan mulai berkurang hingga kadang tidak ada sama sekali. Diluar itu saya juga harus membayar tunggakan cicilan rumah.

Saya sudah bersusah payah memenuhi kewajiban saya sebagi nasabah satu tahun belakangan ini, karena tidak mau dianggap tidak bertanggung jawab, akhir 2012 (saya tidak ingat bulannya) saya mengajukan permohonan secara lisan kepada Bank Mega agar diberikan keringanan untuk melunasi hutang-hutang saya yang totalnya saat itu sebesar Rp.7.000.000. Saat ini sudah lebih besar,(Saya menelpon Customer Service).

Oleh Costumer Service tersebut saya disarankan menghubungi pihak Collection. Saya diberikan 2 nomer telpon yang keduanya duanya tidak bisa dihubungi. Beberapa minggu kemudian pihak collection menelpon saya. Namun apa yang saya dapat dari niat baik saya, hanya cacian serta intimidasi yang saya dapat.

Pihak Bank Mega sendiri bukan tidak pernah memberikan solusi kepada saya. Solusi yang diberikan adalah saya harus membayar sebesar Rp.760.000 sebagai uang muka dan jaminan kalau saya mempunyai itikad baik. Catatannya adalah saya akan ditelepon kembali setelah pembayaran saya sudah genap Rp.760.000.

Pada saat itu petugas Collectionnya bernama Hani. Dan uang sebesar ini bisa saya cicil tanpa adanya perjanjian batasan waktu. Karena pada hari itu saya hanya mempunyai uang sebesar Rp.500.000 akhirnya saya transfer hari itu juga ke Bank Mega. Pada tanggal 051212 dan sisanya sebesar Rp.260.000 pada tanggal 131212. Setelah beberapa minggu ada dari pihak collection yang menelpon saya bernama Ando.

Petugas tersebut miminta saya saya untuk menyiapkan berkas-berkas yang mungkin diperlukan. maka saya siapkan. Petugas tersebut akan mengambil berkas-berkasnya kerumah saya. Dengan maksud memperingan pekerjaan petugas tersebut maka saya menawarkan diri untuk mengantarkan langsung kekantor petugas tersebut. Hari senin dan rabu tanggal 4 dan 6 maret 2013 saya datang kekantor Collection Bank Mega di jalan mampang.

Tapi saya ditemui oleh orang yang berbeda. Namun dengan sepihak Bank Mega (petugas Collection yang lain, saya tidak ingat namanya) menganggap transferan saya yang kedua telat 1 hari. Sehingga dianggap batal. Petugas tersebut kemudian menyuruh saya untuk membayar lagi sebesar Rp.1.400.000.

Karena tidak ada uang sebesar itu maka saya putuskan untuk kembali kerumah. Sampai saat ini belum ada jalan solusi yang meringankan untuk saya untuk melunasi hutang katu kredit saya. telepon terakhir yang saya terima malah mengancam mereka akan menyerahkan berkas hutang saya kepada Agen (Debt Collector). Bank sebesar itu masih menggunakan cara premanisme terhadap nasabah?

Perlu diketahui pihak Bank Mega. Bahwa saya tidak pernah berniat untuk lari dari hutang saya. Saya hanya minta diberikan keringanan untuk melunasinya. Tetapi dibuat solah-olah saya yang tidak mempunyai itikad baik. Semoga pihak Bank Mega bisa memberikan solusi kepada saya agar urusan ini segera selesai. Terimakasih

 

*[Sudah dilaporkan ke pihak terkait pada 22 Maret 2013]

*[Sudah ditanggapi oleh pihak terkait pada 23 April 2013]

Share on Twitter

Pengaduan Terkait:

  1. Penagihan Iuran Kartu Kredit Bank Mega yang Sudah Saya Lunasi dan Blokir Setahun Lalu
  2. Rumah Akan Dilelang Oleh Pihak Bank Mega Padahal Saya Sudah Mengajukan Pelunasan
  3. Tagihan Kartu Kredit Bank Mega
  4. Manajemen Bank Mega yang Tidak Professional
  5. Keterlambatan Pengiriman Kartu Kredit Bank Mega
  6. Bank Mega Keterlaluan
  7. Mikir – Mikir Lagi deh Kalau Mau Pakai CC Bank Mega
  8. Penagihan Kartu Kredit yang Sudah Ditutup serta Perlakuan Kasar Bank Mega
  9. Lagi, Pelayanan Kurir Kartu Kredit Bank Mega Yang Sangat Payah
  10. Iuran Tahunan dari Kartu Kredit Bank Mega yang Sudah Ditutup dan SMS Kasar

4 comments

  1. Khrishna says:

    KEJAMNYA DEBT COLLECTOR BANK MEGA!! IBU SAYA MASUK RUMAH SAKIT KARENA DITEROR.

    Tidak disangka bank yang dimiliki oleh Si Anak Singkong : Chairul Tanjung ini mempraktikkan cara-cara tidak manusiawi dan penggunaan kalimat-kalimat kotor untuk menagih tunggakan kartu kredit yang hanya telat 2 bulan saja. Padahal saya selalu rajin membayar tagihan sebelum-sebelumnya dengan tepat waktu. Kalau saya punya uang pasti juga akan saya bayarkan tagihannya atau minimal membayar cicilannya. Hanya saja memang saya sedang ditimpa musibah, usaha saya bangkrut, keluarga juga sedang ada yang operasi. Apakah begini cara mereka memperlakukan nasabahnya untuk sekedar menagih saja.

    Yang paling menyakitkan hati saya adalah ibu saya yang akhirnya penyakit jantungnya kumat dan harus masuk ruang ICU RS Mitra Kampung Melayu, akibat dikata-katai kalimat kotor oleh petugas debt collector. Tidak sepadan dengan hutang kartu kredit saya yang hanya sebesar Rp20 juta saja. Bagian penagihan (debt collector) Bank Mega juga tidak merasa puas sampai di situ saja, mereka bahkan meneror tetangga kiri-kanan dengan menghubunginya mereka melalui telepon rumahnya. Saya yakin dan percaya mereka mendapatkan nomor tersebut dari layanan penerangan 108. Saya tidak tahu maksudnya apa, mungkin saja mereka ingin menghancurkan kredibilitas diri saya demi utang Rp 20 juta nya itu saja. Ya Allah apakah sepadan dengan penderitaan yang saya tanggung.

    Saya tidak tahu harus bertanya siapa lagi selain mengirimkan keluh kesah ini kepada suara pembaca ini, semata-mata agar para nasabah bank Mega lainnya tidak mengalami hal tragis seperti saya. Saya doakan bank Mega bisa mengubah caranya dan pendekatannya dalam hal penagihan, karena kalau ada uang pun pasti nasabah akan melunasinya. Kalaupun telpon tidak diangkat bukan berarti nasabah tidak mau bayar, hanya saja pikiran dan energi saya lebih baik digunakan untuk mencari uang untuk melunasinya daripada melayani terornya. Semoga saja Chairul Tanjung yang katanya konglomerat itu menjadi kaya raya tetapi tidak menggunakan cara-cara keji seperti ini. Semoga ibunya tidak mengalami seperti apa yang dialami ibu saya. Amin Ya robbal Alamin.

    Saya sudah membaca bukunya dan merasa kagum, tetapi kemarin bukunya sudah saya donasikan kepada orang lain. Wassalam

    Pengirim : Khrishna
    KTP : Terlampir
    Alamat : Jl. Rambutan IV no 11, Pondok Gede. Kota Bekasi

  2. Jumhur Hidayah says:

    KONGLOMERAT PELIT ALA CHAIRUL TANJUNG

    Baru tahu saja kalau ternyata Chairul Tanjung menjadi kaya dengan kerja keras, kerja cerdas, dan ikhlas. Ternyata itu tidak cukup, banyak hal yang disembunyikan si Anak singkong ini. Ternyata si tubuh bongsor ini di mata karyawannya sangat suka agar karyawannya kerja rodi, lembur dengan gaji minim, dan pelit. Duh… Kalau gitu sih saya juga bisa, dengan cara memeras orang lain. Apakah dia kerja keras, atau karyawannya diperas kerja?

    Ternyata Chairul Tanjung ini juga jago bersiasat mengakali bank lain untuk mendapatkan kredit sindikasi. Seorang motivator bilang bahwa dia membeli carrefour seharga 3 triliun rupiah, tapi ngambil kredit 3,5 triliun rupiah. hehehe…. gak jauh beda dengan ilmunya pak purdie chandra. Sementara Orang lain dilarang mengambil cashback dari banknya sendiri. Dan dia mengatakan bahwa dia kerja cerdas dengan melakukan itu.

    Bakat investigasi saya juga tergoda untuk mencoba selidiki ke teman-temannya, ternyata si anak minang ini terkenal sulit dihubungi setelah kaya raya. Sama saja dengan konglomerat lainnya, praktis tidak ada bedanya. Samimawon.

    Terakhir, dia juga memelihara dan menggaji orang-orang tidak bermoral dengan mulut kotor untuk menagih kredit yang telat bayar. Luar biasa! Bahkan tanpa disadarinya ada nasabahnya malah lebih rugi secara materil oleh hutang sejumlah beberapa juta saja, dengan kehilangan nyawa ibu kandungnnya sendiri. Semoga si Anak Singkong ini tidak mengalami hal serupa karena hukum karma di kemudian hari yang menimpa keluarga atau orang-orang yang disayanginya. Semoga! Apakah dia ikhlas? Oh tidak, dia tidak ikhlas dengan kehilangan uang kecilnya.

    Jangan buat buku lagi deh, maluuuuu… co-penulisnya aja komplain gak dibagi royalti. Duh…..

  3. Gatot Aris Munandar says:

    Perihal : Tanggapan atas pengaduan Bapak Andy Surya Nugraha

    Redaksi yang terhormat,

    Sehubungan dengan surat di rumahpengaduan.com (22/3), “Bank Mega Tidak Punya Sikap Toleransi”, yang disampaikan Bapak Andy Surya Nugraha, kami sampaikan bahwa kami telah menghubungi Beliau untuk menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami dan memproses permintan Bapak Andy Surya Nugraha. Bapak Andy Surya Nugraha dapat menerima penjelasan dan sudah tidak mempermasalahkan.

    Demikian kami sampaikan. Terima kasih atas perhatian dan kerja sama rumahpengaduan.com untuk memuat tanggapan kami.

    Hormat kami,

    PT. Bank Mega, Tbk.

    Gatot Aris Munandar
    Corporate Communication

    1. Riri says:

      Kayaknya jawaban dari bapak Gatot adalah auto reply atau sejenis mesin yang menjawab secara random deh……. setelah dilihat beberapa tanggapan anda, semuanya bernada sama……. jadi was2 sama CC Mega deh…….

Leave a Reply