«

»

Oct
27

Surat Terbuka Untuk Manajemen Lion Air


  • [ Sudah dilaporkan ke pihak terkait pada 27 Oktober 2014 ]
Share on Twitter

10522550_10202275049463155_3353625850199938449_nSURAT TERBUKA UNTUK MANAJEMEN LION AIR
(PELAYANAN KONSUMEN TERBURUK PADA ANGKUTAN LEBARAN)

Sabtu, 26 Juli 2014 menjadi hari penyesalan saya memilih maskapai penerbangan Lion Air untuk sarana angkutan lebaran. Saya adalah penumpang pesawat JT 550 yang dijadwalkan terbang dari Jakarta ke Jogjakarta pada Sabtu, 26 Juli 2014 pukul 15.50 WIB. Saya tiba di bandara untuk check in kira-kira pukul 13.00 dan mendapatkan seat bernomor 29F, melalui gate A9 terminal 1 Bandara Soekarno Hatta.
Pada pukul 14.10 saya masuk ke ruang tunggu gate A9 dan melihat papan layar schedule penerbangan JT550 ada di gate A6. Saya mendatangi petugas informasi dan mendapat jawaban bahwa yang tertulis pada boarding pass sudah betul, bahwa pesawat JT550 dijadwalkan boarding melalui pintu gate A9, papan layar schedule tidak menunjukkan data terbaru. Selanjutnya, pada pukul 15.50 petugas lion air mengumumkan bahwa pesawat JT550 mengalami keterlambatan dan dijadwalkan terbang pada pukul 16.50. Pada pukul 16.40 petugas bandara mengumumkan agar seluruh penumpang pesawat JT550 naik ke pesawat melalui gate A6, tidak pada gate A9 seperti yang dikonformasi petugas informasi lion air sebelumnya. Penumpang berlarian menuju gate A6 dan 15 menit kemudian, setelah petugas lion air 3 kali mengumumkan agar penumpang segera masuk pesawat melalui pintu A6, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat JT 550 tidak jadi diterbangkan pada pukul 16.50, namun kembali mengalami keterlambatan dan dijadwalkan terbang pada pukul 17.50. Ini menjadi kesalahan pertama lion air, sangat tidak informatif.

Pada pukul 17.30, kembali para penumpang diminta untuk naik ke pesawat melalui pintu A6. Singkat cerita, setelah naik ke pesawat, betapa terkejutnya saya ketika melihat tempat duduk saya 29F telah diduduki oleh penumpang lain. Ketika saya tanyakan ke penumpang tersebut, sungguh di luar dugaan ternyata kami memiliki boarding pass dengan nomor tempat duduk sama alias double seat. Sengaja saya memfoto boarding pass sebagai bukti double seat tersebut. Saya mendatangi pramugari yang bertugas untuk menyelesaikan masalah dan pramugari tersebut meminta saya menunggu untuk dicarikan tempat duduk lain. Tak disangka oleh pramugari, tempat duduk di dalam pesawat tidak ada lagi yang kosong. Saya mulai curiga kalau Lion Air berani menjual tiket pesawat melebihi kapasitas tempat duduk penumpang, dengan harapan ada penumpang yang terlambat hingga masih ada tempat duduk kosong. Sebagai informasi, penumpang yang nomor tempat duduknya sama dengan saya adalah penumpang transit pesawat dari Batam. Saya yang belum mendapat tempat duduk juga sementara pesawat akan take off, diajak salah seorang petugas bernegosiasi di depan pintu masuk pesawat, dengan berkali-kali sang petugas berkata “tidak enak kalau didengar penumpang lain”. Kemudian, saya diminta keluar pesawat oleh petugas yang mengecheck jumlah penumpang dengan janji akan diberi kompensasi. Saya bersikeras tidak mau keluar pesawat dan sempat bertanya kenapa bukan salah seorang pramugari saja yang turun untuk memberikan tempat duduknya pada saya. Sungguh diluar dugaaan, salah satu pramugari berani membentak balik saya dan berkata pesawat tidak akan bisa terbang tanpa dia, dan saya sungguh tidak punya rasa kasihan pada penumpang lain yang menunggu take off. Luar biasa bagaimana petugas lion air menyelesaikan masalah yang datang dari kecerobohan lion air sendiri. Salah satu penumpang pesawat akhirnya menghampiri saya, dan menawarkan tempat duduk anaknya untuk saya tempati, biarlah dia berkorban memangku anaknya agar pesawat segera terbang. Saya tidak mau, karena saya bukan orang yang suka mengambil hak orang lain sebagaimana lion air. Karena tidak tega melihat penumpang lain yang sudah mengalami delay penerbangan 2 jam dan karena salah satu petugas menjanjikan saya untuk dapat terbang pada pesawat berikutnya pukul 19.00 serta mengganti kompensasi, akhirnya saya turun dari pesawat. Saya kemudian diantar ke business lounge lion air yang sudah tidak lagi menyediakan makan malam dan diminta menunggu manager on duty untuk kompensasi dan penggantian pesawat. Pada pukul 19.30, manager on duty bernama Andi Handoko datang dengan telah membawa tiket pengganti. Saya tanyakan mana kompensasi yang dijanjikan, sang manager terlihat mencibir saya dan bilang nanti saya ganti uang 100 ribu, sambil berkata “mbak mau nggak naik pesawat lain ini, pesawatnya sudah mau berangkat”. Saya menganggap sikap ini adalah pelecehan pada penumpang, lion air telah merugikan saya, dan begini cara mereka memperlakukan saya. Lion Air seakan sadar penumpang seperti saya tidak punya banyak pilihan dan pasti mau diberikan kompensasi macam apapun asal bisa pulang kampung.

Share on Twitter

Pengaduan Terkait:

  1. Lion Air, Kenapa Kami Yang Menanggung Kerugiannya?
  2. Kehilangan HP di Lion Air
  3. Surat Terbuka Untuk Presdir CIMB Niaga
  4. Pelayanan Lion Air Sangat Tidak Profesional
  5. Pelayanan Ticketing Lion Air Soekarno Hatta Yang Tidak Profesional
  6. Klaim Kompensasi Lion Air Tidak Sesuai Janji
  7. Konspirasi Petugas Check In Lion Air dan Calo Tiket Pesawat
  8. Ditinggal Pesawat Lion Air
  9. Layanan Lion Air Mengecewakan
  10. Lion Air 15 Menit Berada di Depan Pesawat Tak Boleh Naik

Leave a Reply